Minggu, 22 Desember 2013

SENJA PUKUL LIMA

Pernah suatu ketika gue ngerebahin badan akibat dampak kecapekan karena situasi formalitas sebagai pekerja. Gak sengaja duduk di kursi cinderamata dari kakek. Kursi tua yang mungkin umurnya lebih tua dari gue. Gue tinggal sebentar kursi tersebut. Gue buat kopi bikinan sendiri, ngeliat rokok dalam saku yg isinya cuma tinggal beberapa batang lagi. Gue duduk lagi di kursi tersebut, di bayangin background silau dari kisi kisi jendela yang terbuat dari kayu meranti lama di pinggiran ruang rumah kakek. Gue buka jendela tersebut. Gak tau kenapa. Ada rasa beda, rindu kebersamaan saat kecil bersama kakek di ruangan ini. Termenung dan terhentak sejenak, ada kala rasa ini ingin menangis menahan masa masa di mana gue dulu pernah kecil, ketawa, gembira, bermain ke sana kemari, pokoknya lepas jaya. Gak ada beban pikiran, gak ada yg namanya stres, pusing kepala mikirin dunia, apalagi mesti move on ke tembang tembang berikutnya. Gue hidupin rokok tersebut, gue nikmatin setiap sedotan dari nikotin yg sudah gak asing lagi masuk ke tenggorokan. Sambil menghirup hasil seruputan buatan gue sendiri. Agak enakan, agak relax, lumayan nyaman gue mulai senderan di belakang kursi ini. Silau matahari semakin berwarna. Berubah merah kekuningan. Matahari di ujung sana terlihat berkilau seolah berkata "gue pergi cuma sementara dan besok kembali menyinari dunia". Saat ini, senja pukul lima sore gue terdiam melihat indah karya Tuhan yang satu ini. Rokok mulai habis dan kopi udah mulai terlihat ampasnya tapi, gue masih stay di kursi kakek. Kangen kakek deh, semoga kakek di surga juga duduk sama kayak yang gue rasain sekarang. Semoga kakek duduk sambil ngopi dan dapet rokok gratis dari surga. Hemm, gak kebayang gimana rasanya kalo kakek udah ketawa ngakak di sana. Karna dunia, gue lupa sama kenyamanan dan ketenangan yang tiada lawan nya. Dunia udah berubah dan gue juga udah berubah. Bahkan sangat berubah malah. Gue udah terlalu sibuk tanpa kabar bahkan jarang pulang apalagi gak pernah duduk sore habis mandi kayak tempo kecil dulu. Huh, gak berasa lagi bau badan capek pulang kerja gara gara duduk di kursi kakek. Senja ini, detik ini bakal terulang lagi di saat gue udah mulai bebas dan gak terikat yang namanya sibuk akan ego dan urusan gak penting gue. 

Bisa jadi situasi ini yg paling gue sukai, nikmatin proses perjalanan yang apa adanya. Sambil duduk di kursi tua milik kakek, di temenin secangkir kopi hangat sedikit gula hampir sama kayak espresso walaupun beda cara pembuatannya. Dan nikotin rokok yang setia melebihi pendamping entah kemana perginya. Layaknya sebuah telenovela tentang rasa rindu, rasa cinta, rasa pedih, sakit, senang, gembira, dan sangat takut tidak bisa menikmati senja pukul lima di kursi kakek tercinta.

"Duduk melihat matahari terbenam sangat sangat tak ternilai harganya dengan kehidupan di luar sana"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar